Kehadiran Si Buah Hati #3

ALHAMDULILLAH…

pada hari Sabtu Pon, tanggal 5 Desember 2015, jam 12:08 WIB telah lahir anak ketiga kami di RS Airlangga Jombang melalui proses operasi Caesar oleh dr. Rizal Fitni, Sp.OG. Si kecil lahir belum genap 9 bulan (sekitar masih 36 bulan) sehingga  berat badannya hanya 2,42 Kg dan panjang 46 cm. Namun AlhamduLILLAH si kecil memiliki kondisi yang sehat.

seperti halnya, saat kelahiran Naya dan Fifi, aku hanya bisa memandanginya dengan kagum dan takjub. Kemudian, saya mendengungkan dengan lirih “adzan” di telinga kanan dan “iqomah” di telinga kirinya, kemudian kubisikkan kepadanya untuk menjalankan ibadahnya dengan khusyu’ dan tuma’ninah agar selalu ingat bahwa hidupnya adalah ibadah dan selalu ingat kepada ALLAH SWT dan saya berdoa meminta kepada ALLAH agar hidupnya diberkahi keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Kami sepakat untuk memberikan nama anak laki-laki kami dengan :

“FATHIR HUDAN AL-FARINDY”

P_20151207_072436

Nama Fathir berasal dari bahasa Arab yang berarti pencipta. Hudan juga berasal dari bahasa Arab yang berarti solusi kehidupan. sedangkan Al-Farindy merupakan gabungan namaku dan istriku yang juga dalam bahasa Arab bermakna dengan “cekatan” yang juga sekaligus mengingatkannya kelak bahwa dia adalah buah hati dari kedua orang tuanya.

Makna dan doa kami pada ALLAH melalui namanya adalah Semoga anak kami menjadi pribadi muslim yang sholeh dan menjadi pencipta solusi bagi kehidupan manusia dan cekatan serta taat pada orang tuanya agar bisa menjadi bekal hidupnya dalam menuju Sang Pemilik Kehidupan… Semoga… BarrokALLAH…

Selamat datang buah hatiku…
pujaan hatiku…belahan jiwaku…
Semoga hidupmu tetap teguh dalam imanmu…
Semoga hidupmu tetap penuh dalam kesadaranmu…
Semoga hidupmu tetap indah dalam ketampananmu…
Semoga hidupmu tetap megah dalam kesahajaanmu…
Semoga hidupmu tetap bermakna dalam karyamu…
Semoga hidupmu tetap merdu dalam tutur katamu…
Semoga hidupmu tetap dalam naungan dan lindungan Sang Pemilik Hidupmu…
selalu…sekarang dan selama-lamanya…

BarrokALLAHumma amiin…

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Kehadiran Si Buah Hati #2

ALHAMDULILLAH…

pada hari Jumat, 21 Pebruari 2014, jam 22:10 WIB telah lahir putri kedua kami di RS Airlangga Jombang melalui proses operasi Caesar oleh dr. Rizal Fitni, Sp.OG. Si kecil lahir dengan berat 2,9 Kg dan panjang 49 cm. Uniknya, persalinan ini dilakukan bersamaan dengan persalinan fifi rafikeponakan kami dan selain itu kami harus pula berbagi kamar karena kamar yang lain sudah penuh terisi. Proses persalinannya-pun hanya selisih satu jam saja dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

seperti halnya, saat kelahiran Naya, aku hanya bisa mendengungkan dengan lirih “adzan” di telinga kanan dan “iqomah” di telinga kirinya, kemudian kubisikkan kepadanya untuk menjalankan ibadahnya dengan khusyu’ dan tuma’ninah agar selalu ingat bahwa hidupnya adalah ibadah dan selalu ingat kepada ALLAH SWT.

Setelah berdiskusi sampai pada hari ke-7, si kecil kami putuskan diberi nama :

“FATHIYYAH AFIQAH FARINDY”

fifi new born

Fathiyyah dalam bahasa Arab diartikan dengan “berakhlak baik”. Afiqah juga dalam bahasa Arab bisa diartikan dengan “cerdas”. sedangkan Farindy merupakan gabungan namaku dan istriku yang juga dalam bahasa Arab bermakna dengan “cekatan” yang juga sekaligus mengingatkannya kelak bahwa dia adalah buah hati dari kedua orang tuanya.

Doa yang kami panjatkan untuk anak kedua ini adalah semoga anak ini menjadi anak yang berakhlak baik, cerdas dan cekatan serta taat pada orang tuanya agar bisa menjadi bekal hidupnya dalam menuju Sang Pemilik Kehidupan… Semoga… BarrokALLAH…

Selamat datang buah hatiku…
pujaan hatiku…belahan jiwaku…
Semoga hidupmu tetap teguh dalam imanmu…
Semoga hidupmu tetap penuh dalam kesadaranmu…
Semoga hidupmu tetap indah dalam kecantikanmu…
Semoga hidupmu tetap megah dalam kesahajaanmu…
Semoga hidupmu tetap bermakna dalam karyamu…
Semoga hidupmu tetap merdu dalam tutur katamu…
Semoga hidupmu tetap dalam naungan dan lindungan Sang Pemilik Hidupmu…
selalu…sekarang dan selama-lamanya…

BarrokALLAHumma amiin…

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

UMK lagi…UMK lagi…

Pada hari Sabtu, 26 November 2011 saya diundang oleh Radio Suara Warga di acara Warung Komunitas. Undangan ini membicarakan topik UMK 2012 Kabupaten Jombang. Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dewan Pengupahan menetapkan UMK para buruh di tahun 2012 yang ditetapkan sejumlah Rp.978.200 dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Rp.1.022.259. Jumlah tersebut berbeda dari hasil survey yang dilakukan oleh Serikat Buruh Plywood Jombang (SBPJ) yang menghasilkan KHL sebesar Rp.1.636.418. Lantas pertanyaannya adalah pihak mana yang benar ? Saat diminta rincian pembentukan KHL oleh para Buruh, Dewan Pengupahan tidak bisa memberikannya dengan alasan bahwa dokumen tersebut adalah “Rahasia Negara”, sungguh sangat naif sekali mengingat keputusan tersebut tidak mengancam stabilitas negara dan berdampak pada kesejahteraan buruh setahun ke depan.

Perbedaan kepentingan dan paradigma menjadi bahasan dalam penentuan UMK tersebut. Ini dikarenakan buruh mengharapkan upah yang diterima bisa mencukupi kebutuhannya sedangkan pengusaha mengharapkan upah minimum yang ditentukan tidak terlalu besar agar keuntungan yang didapatkan lebih banyak. Perbedaan point of view ini mengharuskan dibentuknya sebuah sistem penentuan upah minimum yang menjembatani antara dua belah pihak.

Mekanisme Pembentukan UMK

Sebenarnya, seperti apakah dan bagaimana cara menentukan UMK di sebuah kabupaten ? UMK ditentukan oleh Dewan Penelitian Pengupahan Nasional (DPPN). Lembaga ini merupakan tripatrit plus yang terdiri dari Serikat Buruh (perwakilan dari buruh), Apindo (perwakilan pengusaha), pemerintah dan Akademisi. Usulan UMK telah dievaluasi dan dimusyawarahkan berdasarkan data yang ada, kemudian mereka analisis dengan mempertimbangkan KHM (kebutuhan hidup manusia); IHK (indeks harga konsumen); perluasan kesempatan kerja; upah pada umumnya berlaku secara regional; kemampuan, perkembangan dan kelangsungan perusahaan; tingkat perkembangan perekonomian.

sejak tahun 1956, penentuan kebutuhan hidup manusia ditentukan oleh Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) secara tripatrit dan para ahli gizi yang memperkirakan berapa kebutuhan minimum pekerja sehingga dia dapat hidup sehat dan mampu bekerja dengan baik. Berdasarkan KFM diketahui bahwa kebutuhan konsumsi makan dan minum pekerja adalah 3.000 kalori untuk pekerja berstatus lajang (belum menikah). KHM di Indonesia ditetapkan melalui surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No : 81/MFN/1995 29 Mei 1995 tentang Penetapan Komponen Kebutuhan Hidup Minimum.

Berdasarkan KFM maka Dewan Pengupahan menggunakan pendekatan survey untuk menentukan besaran Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di beberapa pasar, baik pasar induk maupun pasar umum serta data statistik di Biro Pusat Statistik. Adapun pendekatan survey dilakukan kepada 46 komponen yang terdiri dari 5 komponen, yaitu Komponen makanan dan minuman, komponen Sandang, komponen papan (perumahan), komponen kesehatan dan estetika serta komponen aneka kebutuhan lainnya. Komponen tersebut bisa berubah namanya namun kebutuhan inti memiliki komponen tersebut di atas. Untuk di Kabupaten Jombang, berikut ini adalah komponen-komponen yang disurvey :

A. Komponen yang masuk di kategori makanan dan minuman :

1. Beras (kebutuhan 10 Kg)

2. Sumber Protein : Daging (butuh 0,75 Kg), Ikan segar (butuh 1,2 kg) dan Telur ayam  (butuh 1 Kg)

3. Kacang-kacangan (misal: tempe, tahu, dll butuh 4,5 Kg)

4. Susu Bubuk (kebutuhan : 0,9 Kg)

5. Gula Pasir (kebutuhan : 3 kg)

6. Minyak goreng (kebutuhan : 2 kg)

7. Sayuran (misal : kacang panjang, wortel, sawi, dll, kebutuhannya 7,2 Kg)

8. Buah-buahan (misal : jeruk, semangka, pisang, dll, kebutuhannya 7,5 Kg)

9. Karbohidrat lain (misal : mie instan kebutuhannya 3 Kg)

10. Kopi (kebutuhannya 1 Kg)

11. Bumbu-bumbuan (biasanya 15% dari jumlah item 1 s/d 10 di atas)

B. Kelompok komponen Sandang

12. celana panjang (kebutuhannya 1/2 item)

13. kemeja lengan panjang (kebutuhannya 1/2 item)

14. kaos oblong (kebutuhannya 1/2 item)

15. celana dalam (kebutuhannya 1/2 item)

16. sarung (kebutuhannya 1/12 item)

17. sepatu (kebutuhannya 1/6 item)

18. sandal jepit (kebutuhannya 1/6 item)

19. handuk mandi (kebutuhannya 1/12 item)

20. perlengkapan ibadah (kebutuhannya 1/12 item)

C. Kelompok komponen Perumahan

21. Sewa kamar (biasanya kos sekitar pabrik sebulan)

22. tempat tidur / dipan (kebutuhannya 1/48 item)

23. kasur dan bantal (busa tebal 20 cm dengan kebutuhan 1/48 item)

24. Sprei dan sarung  bantal (kebutuhannya 1/6 item)

25. meja dan kursi (1 meja dan 4 kursi merek idola, kebutuhannya 1/48 item)

26. lemari pakaian (kayu 1 pintu, kebutuhannya 1/38 item)

27. sapu (ijuk kebutuhannya 1/6 item)

28. perlengkapan makanan : gelas minum (butuhnya 1/4 item), sendok & garpu (butuhnya 1/4 pasang), piring (butuhnya 1/4 item).

29. ceret aluminium (kebutuhan 1/24 item)

30. wajan aluminium (kebutuhannya 1/24 item)

31. panci aluminium (kebutuhannya 1/6 item)

32. sendok makan (kebutuhannya 1/12 item)

33. kompor (sumbu 16 HOK, kebutuhannya 1/24 item)

34. minyak tanah (kebutuhannya 10 liter)

35. ember plastik (isi 20 liter, kebutuhannya 1/6 item)

36. listrik (kebutuhannya 450 watt setiap bulan)

37. bola lampu pijar (15 watt, kebutuhannya 1/2 item)

38. air bersih (2 m² per bulan)

39. sabun cuci (kebutuhannya 1,5 Kg)

D. Komponen Pendidikan :

40. bacaan (kebutuhannya 1 eksemplar tabloid)

E. Kelompok Komponen Kesehatan :

41. Sarana kesehatan : pasta gigi (butuh 1 item), sabun mandi (butuh 2 item), sikat gigi (butuh 1/4 item), shampo (butuh 100 ml), pembalut (butuh 2 set).

42. obat anti nyamuk (kebutuhan 3 pak)

43. potong rambut (kebutuhan 6/12 kali)

F. Komponen Transportasi

44. transport kerja (kebutuhan 1x pergi – pulang selama 30 hari)

G. Kelompok Komponen Rekreasi & Tabungan

45. Rekreasi (kebutuhan 2/12 kali)

46. tabungan (kebutuhannya 2% dari jumlah item 1 s/d 45).

Survey dilakukan di paling tidak 3 pasar referensi yang terdiri dari pasar induk dan pasar lokal. Untuk survey yang dilakukan oleh kawan² SBPJ dilakukan di 3 pasar yaitu Pasar Legi Jombang, Pasar Ploso dan Pasar Mojoagung. Survey tersebut diperoleh KHL sebesar Rp.1.636.418.

Survey dan perhitungan KHL tersebut memiliki kelemahan sistem, yaitu masih menghitungkan kebutuhan dari buruh yang masih lajang, sedangkan mekanisme perhitungan bagi buruh yang sudah menikah atau memiliki tanggungan anak tidak disebutkan dalam KHL tersebut. Padahal, kebutuhan individu yang sudah berumah tangga biasanya memiliki kebutuhan yang berbeda pula.

Sistem Pengambilan Keputusan Yang Melemahkan Buruh

Survey KHL tersebut kemudian dimusyawarahkan dan diputuskan besarannya di pertemuan Dewan Pengupahan Daerah. Komposisi Dewan Pengupahan untuk di Kabupaten Jombang yang beranggotakan 17 orang yang terdiri dari 3 orang perwakilan dari Serikat Buruh, 4 orang dari perwakilan Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), 3 orang Akademisi dan sisanya dari pemerintah.

jumlah perwakilan buruh yang hanya 3 orang melemahkan daya tawar buruh dalam proses pengambilan keputusan di Dewan Pengupahan Daerah. Ini sulit ditambah karena ada ketentuan yang juga melemahkan yaitu perwakilan buruh harus beranggotakan minimal 2.500 orang sedangkan kelompok perwakilan yang lain tidak memiliki ketentuan ini. Apalagi, jika ada mekanisme politis dari pengusaha yang mencoba mempengaruhi dari kelompok lain melalui deal-deal khusus agar tercipta UMK yang diinginkan pihak pengusaha. namun, sebenarnya secara politis keputusan Dewan Pengupahan tidak akan berpengaruh bila tidak diimbangi oleh keputusan Kepala Daerah. Oleh karena itu, keberadaan Kepala Daerah dapat berperan sebagai quality control terhadap keberadaan Dewan Pengupahan Daerah. Namun, kebanyakan kepala Daerah sebagai wakil dari pemerintahan seringkali berpihak kepada pemilik modal karena terkait dengan penanaman modal yang berimbas pada peningkatan ekonomi secara makro.

Perbedaan point of view dari para pengusaha dan buruh memerlukan diskusi yang riil berdasarkan survey yang sesuai secara metodologis. Namun, kita bisa lihat sejarah dan perkembangan dari Kebijakan Publik di negara kita selama ini masih kurang berpihak pada buruh. Orientasi kebijakan ekonomi makro dan mikro lebih cenderung mengedepankan sektor industri riil yang secara tidak langsung lebih condong memihak pada pengusaha selaku pemilik modal. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah hanya sebagai fasilitator atas proses pengambilan keputusan besaran upah minimum. selain itu, kemampuan dari para stakeholder harus seimbang baik jumlah maupun kualitasnya agar tercipta keputusan yang berorientasi pada keadilan, bukan hanya kesejahteraan semata.

kaum buruh, BERSATULAH !

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Pemulung Gedangkeret Membagikan Bingkisan Lebaran

Wow ! kejutan luar biasa terlontar saat pertemuan rutin dengan kelompok pemulung Gedangkeret hari Kamis, 25 Agustus 2011 kemarin. Bagaimana tidak, kemandirian mereka sudah mulai muncul di tengah kondisi finansial mereka yang boleh dibilang masih kurang mapan. Di pertemuan tersebut kelompok pemulung Gedangkeret membagikan bingkisan lebaran kepada semua anggota baik anggota baru, anggota lama, anggota aktif maupun anggota tidak aktif. Bahkan, saya sebagai mitra mereka juga diberikan bingkisan (jadi terharu…).

Bingkisan lebaran yang diberikan oleh kelompok Pemulung Gedangkeret ini meski tidak banyak, namun dapat meringankan sebagian besar anggota kelompok yang notebene memang masih belum mapan secara finansial. Konsep pembagian bingkisan lebaran ini muncul dari inisiatif kelompok dan digagas bersama dengan kami dari Lakpesdam NU Jombang sebagai mitra mereka. Biaya untuk menyelenggarakan acara ini berasal dari dana kelompok yang diperoleh dari Sisa Hasil Usaha (SHU) dari simpan pinjam yang mereka lakukan selama hampir 1 tahun.

Perkembangan psikologis keorganisasian kelompok yang sudah mulai responsif terhadap ancaman ketidak-pastian akan posisi mereka di Tempat Penampungan Akhir (TPA) Gedangkeret membuat mereka tanggap. Pola-pola kemandirian, peningkatan kesadaran diri, serta ke-guyub-an sosial antar anggota kelompok menjadi point interest tersendiri atas perkembangan kelompok Pemulung Gedangkeret.

Harapan akan kemandirian kelompok dan bahkan sampai ke tiap-tiap anggota kelompok menjadi sebuah visi jelas bagi para anggota kelompok. Pelan, namun pasti, perkembangan komunitas menjadi sebuah organisasi yang mapan mulai terbentuk. Sudah ada beberapa anggota kelompok yang dengan sukarela menjadi pengurus, pengelola uang, pencatat keuangan, mencari update data dari pamong praja di desa Banjardowo, menyelesaikan perselisihan antar anggota kelompok atau di luar kelompok bahkan aktif untuk mengorganisir pertemuan kelompok.

Meski masih awal dan belum menjadi indikator keberhasilan perkembangan organisasi kelompok pemulung Gedangkeret, namun pijakan-pijakan milestone sudah mulai bisa digunakan. Pola kemandirian dan social critism sudah mulai terasa sering muncul di setiap komunikasi antar anggota kelompok. Terima kasih teman-teman pemulung. Semoga langkah-langkah kecil kalian membawa keberkahan dan keberhasilan mentas dari kemiskinan !

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Jaminan Persalinan Gratis (Jampersal)

Pada hari Jumat, 29 Juli 2011 saya diundang oleh radio Suara Warga FM untuk menjadi narasumber di acara talk show rutin setiap jumat “Perempuan Bersuara”. Di acara ini saya diundang beserta pak Bambang Irawan selaku Kasie Promosi dan Jaminan Pelayanan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang serta dr. Ulfa selaku kasie pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. Topik yang kami bahas adalah “Mengawasi Pelaksanaan Jampersal di Kabupaten Jombang”.

Jampersal atau Jaminan Persalinan gratis merupakan sebuah program dari pemerintah pusat yang meng-gratis-kan pelayanan persalinan bagi ibu hamil yang bersedia dilayani di kelas-III atau di layanan kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas, Polindes atau Ponkesdes. Jampersal ini merujuk pada keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 515/ MENKES/ SK/ III/2011 tentang program Jaminan Persalinan. Di dalam Kepmen tersebut sebenarnya disebutkan bahwa pemberlakuan Jampersal bisa dilakukan sejak 1 Februari 2011. namun, di Kabupaten Jombang baru dikeluarkan dananya pada tanggal 1 Juni 2011 setelah teman-teman dari Forum Warga menuntut pencairan dana Jampersal saat hearing di DPRD Kabupaten Jombang.

Meski terlambat, namun akhirnya Jampersal dapat dicairkan dan dapat diakses oleh masyarakat Jombang. Adapun tempat pelayanan Jampersal ada dua tingkat yaitu di tingkat pertama adalah di seluruh Puskesmas, Polindes dan Ponkesdes atau Bidan Praktek Mandiri (BPM) yang menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan. pelayanan di tingkat lanjutan adalah RS milik pemerintah atau RS swasta yang menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan.

Untuk pelayanan persalinan di tingkat pertama (Puskesmas, Polindes, Ponkesdes atau Bidan Praktek Mandiri) layanan yang diberikan adalah :

  1. pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care) yang dilakukan maksimal 4 kali
  2. persalinan normal
  3. pelayanan nifas yang dilakukan maksimal 3 kali. Pelayanan ini diberikan kepada bayi yang baru lahir dan layanan KB pasca persalinan.
  4. pelayanan persalinan tidak maju dan atau proses rujukan bayi baru lahir dengan komplikasi.
  5. Pelayanan pasca keguguran atau vaginam dengan tindakan Emergency dasar.

Sedangkan pelayanan persalinan di tingkat lanjutan (di Ruma Sakit yang dirujuk) layanan yang didapatkan adalah sebagai berikut :

  1. pemeriksaan kehamilan Risiko Tinggi (RISTI) dan penyulit.
  2. Pertolongan persalinan dengan RISTI dan penyulit yang tidak mampu dilayani di pelayanan kesehatan tingkat pertama.
  3. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir di Rumah Sakit dan fasilitas yang setara.

Lantas, apa saja syarat yang harus dipersiapkan untuk mengajukan Jampersal ?

Syarat administrasi di pelayanan kesehatan di tingkat pertama hanya membawa KTP dan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). sedangkan di pelayanan kesehatan di tingkat lanjutan adalah membawa KTP buku KIA, surat rujukan dari pelayanan tingkat pertama serta foto copu partograf dari puskesmas atau bidan.

Selama pelaksanaannya 2 bulan ini, Jampersal di Kabupaten Jombang sudah terlihat perkembangannya. Di RSUD Jombang sendiri, pelaksanaan Jampersal sudah dimulai sejak Mei 2011 meski belum ada pencairan dana dari Dinas Kesehatan. Respon pihak RSUD Jombang ini patut diberikan apresiasi karena ada mitra dari Lakpesdam NU Jombang yang sudah mengakses Jampersal di RSUD Jombang dan dilayani dengan baik. Dari data diperoleh bahwa peserta Jampersal di RSUD pada bulan Mei 2011 sebanyak 161 orang, bulan Juni 403 orang dan di akhir bulan Juli sudah lebih dari 400 orang.

Pihak Dinas Kesehatan meski terkesan lambat dalam bersosialisasi tetap melaksanakan program Jampersal. Namun, masalah muncul di ujung tombak pelayanan ini yaitu di bidan-bidan pelaksana. Petunjuk Teknis yang masih sangat sederhana menimbulkan multi tafsir sehingga terkesan rancu dan menimbulkan banyak delik hukumnya. Contohnya, banyak bidan yang enggan melakukan pelayanan Jampersal karena memang tarifnya berada di bawah tarif rata-rata dalam pelayanan persalinan. Belum lagi masalah alokasi waktu. Bias alokasi waktu muncul manakala ada bidan yang menangani pasien peserta Jampersal di luar jam dinas namun saat melakukan pelayanan persalinan malah berada di jam dinas. Masalah yang ada memang perlu diantisipasi sejak dini, namun sebagai insan kesehatan khususnya sebagai penolong pasien persalinan sebaiknya para bidan juga memandang nilai sosialnya daripada harus mempertimbangkan nilai ekonomisnya terlebih dahulu.

Program Jampersal ini memang masih memiliki banyak celah dan kekurangan, namun niat dan tujuan baik pemerintah perlu mendapatkan respon dan masukan khususnya oleh para stakeholder yang terlibat. Sekali lagi, tujuan pemerintah dalam mengurangi angka kematian ibu dan bayi yang biasanya disebabkan oleh 3T (Terlambat Periksa, Terlambat Pelayanan dan Terlambat Datang untuk dapat Emergency) perlu diapresiasi dengan baik. Peran serta aktif para bidan di desa-desa atau di puskesmas harus dioptimalkan khususnya mengenai update data ibu hamil sehingga antisipasi siapa saja yang berhak mendapatkan pelayanan Jampersal ini dapat tepat sasaran.

8 Komentar

Filed under Uncategorized

Sejarah May Day

Pagi hingga siang (2/5/2011) saya kebagian untuk mengikuti aksi damai kawan-kawan buruh yang bermula di Kebonrojo menuju gedung DPRD Kabupaten Jombang. Aksi damai ini diprakarsai oleh beberapa organisasi buruh di Jombang dan juga beberapa NGO lokal, termasuk salah satunya adalah Lakpesdam NU Jombang. Aksi ini merupakan sebuah kegiatan memperingati hari buruh sedunia. Namun, pernakah kita tahu bagaimana bisa 1 Mei diperingati sebagai hari buruh ?

Hari buruh sendiri sebenarnya pada awalnya bukan dirayakan pada 1 Mei melainkan dilakukan pada tanggal 5 September 1882. pada hari itu diselenggarakan sebuah parade yang diikuti oleh 20.000 orang di New York. Para buruh ini menuntut diterapkannya 8 jam kerja, 8 jam istirahat dan 8 jam rekreasi. Parade ini diprakarsai oleh Peter McGuire dan Matthew Maguire.

Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres mengubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada (1872) , menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Pada tanggal 1 Mei tahun 1886 sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei hingga 4 Mei 1886.

Pada tanggal4 Mei 1886, para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, kemudian polisi Amerika menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagaimartir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.

Pada bulan Juli 1889,Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan diParis menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:

“Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis”.

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

Harapan terkini dari para buruh di Indonesia sendiri terkait dengan May Day ini adalah setidaknya para buruh mendapatkan hak yang semestinya. Setidaknya tanggal 1 Mei dijadikan hari libur nasional.

Bersatulah Para Buruh ! Jadikan 1 Mei jadi Hari Libur Nasional !!!

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Yuk Jadi Social Entrepreneur !!

Ketika saya melihat sebuah iklan produk air minum kemasan terkenal di TV yang menampilkan para tokoh masyarakat dan public figure sedang mengajak perubahan dan mengatakan “it’s in me”, saya melihat ada sosok yang unik. Nama dari tokoh itu adalah Sandiaga S. Uno, nama itu dijelaskan di iklan tersebut sebagai Social Entrepreneur . Wah, sebuah profesi yang cukup unik diantara profesi para tokoh lainnya. Saya-pun tertarik dengan profesi ini dan mencoba searching di mbah google.

Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007).

Pada awalya, Social-entrepreneurship lebih mengarah pada kegiatan dengan model philantrophy atau mendermakan sebagian dana kepada pihak yang membutuhkan dan bersifat nirlaba (non-profil oriented). Akan tetapi dalam perkembangannya, fenomena Grameen Bank dan Grameen Phone di Bangladesh telah menggeser persepsi tersebut. Fenomena unik tersebut telah membuktikdan sekaligus mampu meyakinkan kepada masyarakat bahwa dengan Social-entrepreneur kita bisa mapan secara finansial sekaligus juga membawa manfaat bagi masyarakat yang lainnya.

Konsep pengembangan diri dan pengembangan society melalui Social-entrepreneur yang linier diharapkan dapat menciptakan spread effect yang lebih luas. Poin utama dengan semakin berkembangnya Social-entreprenuers maka diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain itu, kreativitas dari pelaku  Social-entreprenuers secara tidak langsung dapat memberikan nilai inovasi dan kreasi baru terhadap lingkungan sosial-ekonomi masyarakat. Kondisi inilah yang nantinya dalam jangka panjang dapat dijadikan sebagai modal sosial pembangunan nasional, dan membantu upaya peningkatan kesetaraan (equity promotion) dan pemerataan kesejahteraan (spreading welfare) kepada masyarakat luas.

Semangat kewirausahaan yang selalu disandang oleh Social-Entreprenur memberikan udara segar bagi pengentasan kemiskinan karena eksistensinya mampu menciptakan lapangan pekerjaan daripada mencari pekerjaan. Hal ini dikarenakan Social-Entrepreneur mampu menyerap tenaga kerja dari kalangan tidak mampu (masyarakat marginal seperti miskin kota, miskin desa, pemulung, tukang becak, anak jalanan bahkan gelandangan).

Bentuk Riil Social Entrepreneur

Banyak sekali bentuk riil Social-Entrepreneur yang bisa dilakukan di tingkatan praktis. Ada seorang Sarjana Ekonomi yang demi kemajuan desanya rela menjadi seorang peternak puyuh. Ada seorang Sarjana Teknik rela menjadi seorang pengepul sampah di sebuah TPA. Seorang Social-Entrepreneur tidak harus seorang yang berpendidikan tinggi. Ada seorang tamatan SMP membuka usaha penghancur batu kali dan memperkerjakan orang-orang miskin di desanya. Ada seorang tamatan SMA yang membuka usaha mie ayam keliling yang memperkerjakan pemuda-pemuda di sekitarnya. Ada seorang tamatan pondok pesantren yang membuka usaha penyembelihan sapi dan memperkerjakan banyak pemuda di desanya. Ada banyak sekali contohnya, tinggal kreativitas kita saja untuk berkreasi serta tekad kita untuk memulai usaha dan memperkerjakan banyak orang di usaha kita.

Menjadi seorang Social-Entrepreneur tidak harus berhenti bekerja sebagai karyawan. Kita bisa saja tetap bekerja sebagai karyawan dan menyisihkan sebagian uang kita untuk usaha kecil-kecilan dan memperkerjakan orang lain. Ini bukti bahwa Social-Entrepreneurship lebih bermakna community development daripada sekedar carity atau philantrophy biasa.

Dengan segenap kerendahan hati, saya mengajak semua pembaca untuk berkenan menyisahkan sedikit dananya melalui investasi dalam bentuk usaha apapun dan melibatkan banyak orang yang kurang mampu sebagai tenaga kerjanya. Saya berkeyakinan bahwa dengan dalam satu keluarga satu pengusaha maka Indonesia dapat bangkit menjadi negara yang mandiri. Yuk…kita rame-rame jadi Social-Entrepreneur !!

Tinggalkan komentar

Filed under entrepreuner, Uncategorized