Ulangan Nontulis, Mengapa Tidak?

*)Tulisan ini dimuat di Jawa Pos hari Rabu, 6 Februari 2008 pada kolom Untukmu Guruku.Ke mana arah dunia pendidikan kita? Itulah pertanyaan besar yang sekaligus menjadi judul pengantar buku Bangkit dan Berderaplah Maju tulisan Kresnayana Yahya (2007). Proses pendidikan bangsa Indonesia memang mengalami beberapa fenomena yang dilematis.
Di satu sisi, kita diharapkan pada tuntutan normatif zaman yang menggunakan ukuran nilai secara tekstual sebagai indikatornya. Di sisi lain, kita dihadapkan pada tuntutan perkembangan sebuah bangsa lewat pembentukan karakter melalui kematangan dan kemandirian anak didik yang berdimensi waktu lebih lama dibandingkan tuntutan pertama.
Pertanyaan berikutnya, apakah pembelajaran yang kita lakukan itu mampu membuat anak didik menjadi lebih bisa memecahkan masalah? Fakta mengungkapkan, mayoritas pendidik masih mentransferkan ilmu pengetahuan melalui pendekatan yang cenderung searah. Konstruksinya dalam pengajaran kurang. Bahkan, bentuk ujian yang diberikan membatasi ruang gerak serta ruang pikir siswa.
Bentuk-bentuk pengajaran yang bersifat lower-order thingking membuat anak didik menjadi kurang mampu menghubungkan antara hal yang dipelajari di sekolah dengan fakta-fakta dalam kehidupan nyata. Kondisi tersebut mengesankan bahwa siswa lebih banyak cenderung mereproduksi pengetahuan yang sederhana.
Padahal, pemerintah melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) berusaha “menggiring” arah pendidikan agar lebih efektif, sehingga diharapkan bisa berkembang lebih baik dan lebih memberdayakan siswa sebagai subjek dalam pendidikan.
Pembelajaran yang bersifat konstruktivisme melalui pendekatan konstektual merupakan bentuk yang paling tepat untuk memenuhi tuntutan pengembangan pendidikan. Brooks (1993) menyatakan, siswa bisa membina makna tentang dunia dan semesta dengan cara menyintesiskan pengalaman baru yang mereka pahami sebelum mendapatkan input baru tersebut. Mereka membentuk peraturan atau hukum baru melalui refleksi tentang interaksi dengan objek atau ide yang diterimanya.
Dengan demikian, para siswa akan mengintepretasikan apa yang mereka lihat sesuai peraturan atau hukum baru yang mereka bentuk itu. Atau, mereka akan menyesuaikan hasil sintesisnya agar bisa menerangkan maklumat baru dengan lebih baik. Artinya, input baru yang ada mampu disinkronkan dengan kehidupan mereka secara lebih aplikatif.
Konsep konstruktivisme melalui pembelajaran kontekstual diharapkan bisa menjadi proses yang lebih luas bagi pengembangan pemahaman siswa, sehingga mereka mampu terlibat dalam proses higher-order thinking. Artinya, siswa bisa mentransformasikan berbagai informasi, fakta, dan ide untuk melakukan sintesis, generalisasi, penjelasan, hipotesis, kesimpulan, maupun interpretasi atas segala ilmu yang telah dipelajari.
 

Mengajar Butuh Kreativitas
Berdasar konsep konstruktivisme yang berorientasi pada proses higher-order thinking itu, pembelajaran bisa membantu siswa menjadi penghasil pengetahuan serta menjadi subjek proses pendidikan tersebut. Karena itu, tugas utama guru dalam belajar-mengajar adalah menciptakan aktivitas atau lingkungan yang memberikan peluang kepada siswa untuk terlibat aktif dalam belajar yang berbasis higher-order thinking.
Guru harus mampu memfasilitasi siswa dalam pemahaman materi, baik melalui kegiatan yang bersifat memancing respons balik siswa maupun scaning problem (mendeteksi masalah). Dengan begitu, guru dapat mencari pemecahan masalah yang tepat.
Tuntutan pemecahan masalah yang mudah dipahami berdasar latar belakang siswa menuntut guru harus aktif dan kreatif dalam belajar-mengajar. Selain itu, tuntutan globalisasi mengharuskan guru mampu secara kreatif menciptakan suasana belajar yang mampu mengangkat isu lokal, tapi berdampak global. Paradigma tersebut diharapkan bisa menciptakan kesadaran baru yang berdimensi lebih luas, sehingga menempatkan siswa sebagai subjek ilmu pengetahuan dan memiliki peran aktif dalam globalisasi.
Berbagai tuntutan itu mengharuskan guru kreatif dan aktif dalam berbagai perkembangan pengetahuan maupun dalam pembelajaran. Proses kreativitas tersebut dapat diperoleh melalui beberapa tahap. Misalnya, penemuan masalah, persiapan pemecahan masalah, pengendapan masalah, pencarian wawasan, dan taktik pemecahan masalah. Pengembangan kreativitas bisa diperoleh melalui beberapa latihan seperti pengembangan imajinasi intensif, kebebasan berpikir, keunikan, serta menghubungkan berbagai objek untuk melahirkan ide-ide baru yang orisinal.
Proses kreativitas guru tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, serta menyenangkan bagi siswa. Tapi, proses belajar yang kreatif tidak hanya sampai pada belajar-mengajar, melainkan bisa juga diterapkan dalam evaluasi belajar siswa agar tercipta pola berpikir yang mengacu pada higher-order thinking….

Pada hakikatnya, evaluasi belajar-mengajar merupakan sebuah tahap yang menjadi indikator pencapaian proses belajar siswa. Agar proses higher-order thinking bisa dicapai, bentuk-bentuk evaluasi belajar harus mampu menciptakan atmosfer akademis yang aktif. Artinya, bentuk evaluasi yang diberikan harus mampu merespons siswa untuk mencari dan menggali makna di balik setiap topik yang disajikan, sehingga siswa mampu mengeksplorasi kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar berdasar teori yang diperoleh di sekolah.
Evaluasi alternatif dalam pembelajaran itu bisa berupa authentic assessment. Bentuk tersebut, menurut John Mueller, merupakan penilaian yang mengharuskan siswa merujuk pada kondisi dunia nyata dan mempraktikkannya melalui aplikasi yang penuh makna dari esensi pengetahuan dan kemampuan siswa. Dalam hal ini, authentic assessment biasanya merupakan ujian atau tugas bagi siswa untuk menampilkan kinerja berdasar daya kreasi masing-masing. Itu semua akan dievaluasi berdasar standar kompetensi yang telah ditentukan sebelumnya.
Melalui authentic assessment, para siswa dibebaskan untuk mengukur, memproduksi, dan mengkonstruksi pengetahuan berdasar paradigmanya. Cara itu membuat siswa bisa menjadi pembelajar yang aktif, sehingga mereka bisa menemukan konsepsi-konsepsi teoretis berdasar pengalaman serta kondisinya dan mengalami pembelajaran yang lebih berarti.
Penggunaan authentic assessment bisa menggambarkan perkembangan kemampuan siswa dalam satu bidang, sehingga mampu menunjukkan kemampuan siswa secara komprehensif dalam memahami sesuatu. Authentic assessment juga bisa digunakan sebagai bukti kemampuan siswa dalam mengadopsi pengetahuan.
Bentuk-bentuk assessment yang kreatif bisa dilakukan untuk mengevaluasi siswa dalam memahami konsepi teoretis mata pelajaran. Penerapan assessment yang kreatif bisa berbentuk ujian nontulis. Untuk membentuk sebuah authentic assessment yang kreatif, peran guru harus optimal dalam pembelajaran, sehingga belajar-mengajar bisa lebih aktif, kreatif, serta menyenangkan. Guru harus bisa membuat assessment yang tepat dan mampu mengembangkan proses higher-order thinking siswa. Guru juga harus mampu melihat dan mengukur sejauh mana kemampuan siswa dalam mengerjakan assessment yang digunakan.Ulangan Harian Alternatif
Bentuk ulangan harian bisa dikatakan sebagai authentic assessment bila penilaiannya bisa mengumpulkan berbagai informasi tentang seorang siswa sebagai tujuan atau bentuk-bentuk evaluasi kajian empiris berdasar kondisi riil di masyarakat. Bentuk itu mampu mengembangkan daya nalar, logika, daya kreasi, serta tanggung jawab siswa.
Authentic assessment bisa menghasilkan varian assessment yang lebih banyak, sehingga tidak hanya bentuk tertulis seperti pilihan ganda atau isian singkat. Authentic assessment bisa berbentuk portofolio, diorama, poster, jurnal, karya tulis ilmiah, sampai kegiatan kewirausahaan atau pembuatan film dokumentasi. Bentuk ulangan harian melalui pendekatan authentic assessment seperti itu tidak hanya menuntut siswa lebih luas mengeksplorasi diri. Namun, guru juga dituntut kreatif dan membuka wawasan dalam menentukan authentic assessment yang tepat serta efektif.
Penerapan assessment di beberapa negara sudah terlihat hasilnya. Misalnya, beberapa bentuk authentic assessment yang diberikan kepada siswa bisa dilihat dalam www.oneworldyouthproject.org. Di website itu terdapat informasi tentang beberapa proyek siswa. Penerapan authentic assessment yang lebih bervariatif diharapkan bisa meningkatkan peran guru serta siswa dalam pembelajaran. Dengan demikian, pengembangan pendidikan bisa tercapai lebih optimal.

Tinggalkan komentar

Filed under Blogroll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s