Pendidikan Soft Skill

Seminar Soft Skill

Pada tanggal 6 februari 2008 kemarin di SMA YPPI-II diadakan seminar sehari bagi guru SMP yang membicarakan tentang Soft Skill. Seminar tersebut menghadirkan Dra. Astrid Wiratna, seorang dosen dari UBAYA yang ahli dalam bidang psikologi terutama psikologi pendidikan. Kebetulan, di acara tersebut saya menjadi kontributor dalam praktek Soft Skill di dunia pendidikan.

Apa itu “Soft Skill”?

Soft Skill merupakan bagian ketrampilan dari seseorang yang lebih bersifat pada “kehalusan” atau sensitifitas perasaan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya. Dikarenakan soft skill lebih mengarah kepada ketrampilan psikologis maka dampak yang diakibatkan lebih tidak kasat mata namun tetap bisa dirasakan. Akibat yang bisa dirasakan adalah perilaku sopan, disiplin, keteguhan hati, kemampuan kerja sama, membantu orang lain, dsb. Keabstrakan kondisi tersebut mengakibatkan soft skill tidak mampu dievaluasi secara tekstual karena indikator-indikator soft skill lebih mengarah pada proses eksistensi seseorang dalam kehidupannya. Pengembangan soft skill yang dimiliki oleh setiap orang tidak sama sehingga mengakibatkan tingkatan soft skill yang dimiliki oleh setiap orang juga tidak sama. Hal ini dikarenakan proses pengembangan soft skill berjalan linier dengan proses kehidupan seseorang. Proses pengembangan soft skill yang lebih berdimensi abstrak membuatnya tidak dapat dipelajari dalam institusi formal. Keberadaan institusi formal seperti sekolah lebih cenderung hanya sebagai media yang paling kondusif untuk mengasah keahlian soft skill seseorang. Hal ini dikarenakan soft skill dipelajari melalui interaksi dengan orang lain dan bagaimana seseorang menghadapi permasalahan dalam kehidupannya. Pembelajaran soft skill dapat dimulai ketika seseorang masih anak-anak. Hal ini dikarenakan masa anak-anak merupakan masa yang paling mudah dalam membentuk blue print bagi pengembangan psikologis seseorang. Walaupun, karakter seseorang bisa berubah secara otodidak. Namun, orang tersebut harus memiliki kesadaran penuh untuk berubah, kemauan dan usaha yang keras sekali.

Bagaimana soft skill dipelajari?

Pembelajaran soft skill yang bersifat abstrak lebih berada pada ranah afektif (olah rasa) dan psikomotor (olah laku).  Kondisi ini mengakibatkan kita tidak bisa mendapatkan pelajaran soft skill dari sekolah formal. Soft skill dipelajari dalam kehidupan sosial melalui interaksi sosial. Lantas, bagaimana soft skill dapat dipelajari? Kita dapat mempelajari soft skill melalui pengamatan atas perilaku orang lain dan juga atas refleksi tindakan kita sebelumnya. Dengan kata lain, soft skill bisa kita pelajari melalui proses pengasahan soft skill kita baik dari melihat maupun melakukan sesuatu. Konsep pembelajarannya-pun tidak terikat waktu dan tempat sehingga kita bisa belajar soft skill kapan dan di mana saja selama kita berinteraksi dengan orang lain.

Soft skills yang perlu diasah dapat dikelompokkan ke dalam enam kategori yaitu: keterampilan komunikasi lisan dan tulisan (communication skills), keterampilan berogranisasi (organizational skills), kepemimpinan (leadership), kemampuan berpikir kreatif dan logis (logic and creative), ketahanan menghadapi tekanan (effort), kerja sama tim dan interpersonal (group skills) dan etika kerja (ethics).

.

Penerapan soft skill

Penerapan soft skill dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dalam banyak hal, salah satunya adalah dalam pekerjaan. Penerapannya dalam pekerjaan terdiri dari 2 ketrampilan penting yaitu ketrampilan mengelola manusia dan ketrampilan mengelola tugas atau pekerjaan. Ketrampilan mengelola tugas atau pekerjaan lebih berdimensi pada multi intelegensi manusia karena untuk menyelesaikan tugas manusia harus mengkombinasikan beberapa keahliannya. Sedangkan ketrampilan mengelola manusia lebih berdimensi secara psikologis, dimana seseorang harus mampu mengelola dirinya sendiri (self management) terlebih dahulu sebelum dapat mengelola manusia yang lain.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Daniel Golleman menyatakan bahwa kebanyakan CEO di dunia memiliki Emotional Intelligence yang tinggi. Kemampuan mereka dalam mengelola pekerjaan dan orang lain menjadi kombinasi unik yang luar biasa. Kemampuan emosional mereka lebih banyak mengambil peran kesuksesannya ketimbang kemampuan intelektualnya. Nah, kemampuan-kemampuan seperti  mereka itu bisa didapatkan melalui pengasahan soft skill sejak dini. Konon, kabarnya George W. Bush Jr. (presiden Amerika Serikat) memiliki soft skill yang hebat sehingga walaupun nilai SAT saat masuk universitasnya hanya sebesar 150 (syarat kelulusan untuk masuk universitas di U.S. sebesar 200) dan diejek sebagai anak yang bodoh namun ternyata olokan teman-temannya itu salah.

Pengasahan Soft Skill Melalui Character Building

Salah satu cara mengasah soft skill pada siswa adalah melalui pembelajaran Character Building di sekolah. Pembentukan karakter menjadi sebuah jalan setapak yang dapat digunakan untuk membentuk insan yang prima sehingga diharapkan dapat memiliki soft skill yang prima pula. Pendidikan berdimensi character building  ini memiliki enam pilar dalam penerapannya. Keenam pilar tersebut adalah Respect, Responsibility, Fairness, Caring dan Citizenship.

Penerapan character building dalam dunia pendidikan memberikan nuansa lain dalam pendidikan karena indikator evaluasi tidak hanya berbasis pada nilai kognitif melainkan juga pada segi afektif dan bahkan juga psikomotorik siswa. Proses pembelajaran melalui character building pertama kali adalah pengenalan atas good character di dalam kehidupan bermasyarakat. kemudian, setelah siswa mengenal dan memahami good character tersebut maka siswa mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari baik di sekolah maupun di rumah atau lingkungan di luar sekolah.

Proses pembentukan karakter yang secara perlahan tersebut tidak langsung dapat memberikan stimulus kepada pengasahan soft skill siswa. Sehingga, siswa diharapkan dapat memiliki kemampuan soft skill yang prima dan berujung pada pembentukan mental individu yang stabil dalam menghadapi tantangan hidup ke depan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimanakah cara kita menerapkan proses pendidikan yang berbasis pada soft skill tanpa harus kontra dengan kebijakan pemerintah yang lebih bersifat pada cognitive orientation? suatu saat nanti pasti akan kita bahas di sini….

2 Komentar

Filed under Blogroll

2 responses to “Pendidikan Soft Skill

  1. salam kawan,
    berbicara tentang soft skill memang masalah klasik yang kontemporer, kenapa demikian..??? karena dalam pembahasan baru2 ini padahal sudah lama sekali masalh tersebut muncul dan di bahas dengan berbagai nama salah satunya life skill yang lebih makro. Untuk mengukur soft skill seperti yang Saudara tuturkan, bahwa tidak bisa, saya ada referensi yang memaparkan sebaliknya, mungkin bisa bapak lihat di tulisan saya ,di blog pribadi saya, disana terdapat salah satu sumber buku karangan prof muchlas samani (guru besar Unesa,Surabaya) yang sedikit banyak mengupas tentang bagaimana mengukur dan mengajar di pendidikan era sekarang, mungkin kita bisa diskus lebih lanjut kedepan….

    trims
    *santos (semangat dalam berjuang untuk hidup-mati)

  2. waalaikum salam…

    sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas responnya…
    saya sudah membaca tulisan saudara slamet santoso di webblog pribadinya..tulisannya bagus sekali, landasan teoritisnya cukup banyak sekali sampai saya harus bingung mencari tulisannya Prof. Muchlas Samani…
    Intinya begini…
    Tulisan saya memang tidak membahas indikator dari soft skill secara detail, mungkin hal ini dikarenakan saya bukan pakar soft skill yang intens terhadap kajian teoritikal dan empirikalnya, namun saya hanya sebagai praktisi pendidikan (baca:guru) yang mencoba menggali potensi anak didik melalui optimalisasi soft skill mereka serta mencoba memberikan kontribusi atas penerapan soft skill pada dunia pendidikan.
    Mungkin jika kita lihat bersama, otoritas guru lambat laun dibagasi oleh sistem evaluasi yang memiliki kecenderungan memiliki keterbatasan eksplorasi siswa. sementara itu, ranah soft skill yang lebih banyak berada di bagian otak sebelah kiri makin terasa dilemahkan dalam fungsi kerja manusia.
    Hard skill memang penting ! namun tanpa dilandasi soft skill, keberadaan hard skill dapat menjadi kemampuan tanpa bisa dinikmati baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Saya yakin, bahwa hard skill yang bagus bila diimbangi dengan soft skill yang bagus dapat memberikan makna bagi orang tersebut dan orang lain yang berinteraksi dengannya…
    Kebetulan, tempat saya mengajar memiliki pendidikan berbasis soft skill yang dikemas dalam mata pelajaran Character Building yang mencoba mengemas kembali mata pelajaran Budi Pekerti yang dulu pernah ada dalam kurikulum di Indonesia (namun sayang kini telah dihapus dengan alasan mengikuti perkembangan jaman yang katanya globalisasi)…
    keberadaan character building dalam kurikulum diharapkan minimal mampu memberikan wacana psikologis normatif bagi anak didik sehingga mereka dapat memiliki referensi perilaku normatif jika dihadapkan pada situasi tertentu…
    Yah..kira² itulah alasan saya kenapa saya tidak memberikan rincian yang detail tentang soft skill seperti yang saudara slamet utarakan dalam webblognya…tapi apapun itu, pendidikan bukan sekadar nilai, pendidikan adalah batang kehidupan tempat akar budi manusia bertumbuh, tempat daun pekerjaan mulia bertengger serta tempat buah rejeki bergelantungan di kehidupan manusia…
    Semoga Bermanfaat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s