Penggusuran PKL, Salah Siapa?

 Situasi Penggusuran PKL Gembong

 *)Foto ini diambil dari Jawa Pos, Jumat, 15 Februari 2008

Setiap pagi selama hari kerja, saya berangkat mengajar selalu melewati Jl. Gembong dan Kapasari yang merupakan lokasi pasar Pedagang Kaki Lima (PKL) yang khas berjualan barang bekas. Kemacetan dan hiru pikuk ramainya orang bertransaksi selalu saya jumpai dalam perjalan pagi saya ke tempat kerja. Namun, kondisi itu tidak sama lagi ketika tanggal 14 Februari 2008. Hari kasih sayang tersebut menjadi tidak berkasih sayang lagi bagi para PKL di kawasan Gembong. Pasalnya, pada hari itu pemerintah Kota Surabaya dengan bantuan dari pihak TNI dan POLRI memaksa mereka membongkar lapak-lapak (tempat berjualan) para PKL sejak pukul 02.00 dini hari. Alhasil, saya yang biasanya bisa melewati jalan Kapasari harus terpaksa memutar jalur melalui daerah Kapas Krampung dan Kenjeran karena jalan Kapasari dan Gembong ditutup total bagi para pengguna jalan.

Meskipun eksekusi penggusuran berjalan dengan lancar dan tanpa ada perlawanan dari para PKL, namun beberapa PKL dan keluarganya tampak lesu dan bahkan ada beberapa yang mengeluarkan air mata. Di ujung jalan, saya melihat beberapa polisi menjaga jalan agar tidak dilalui oleh pengguna jalan meskipun ada beberapa yang nekat menerobos dan akhirnya harus kembali lagi karena jalan Kapasari saat itu penuh dengan orang dan becak serta gerobak yang sedang membongkar lapak sehingga tidak bisa dilalui oleh kendaraan bermotor. 

Di beberapa sudut trotoar dan lapak yang belum terbongkar, saya melihat beberapa aparat juga sedang melepas lelah dengan cara tidur di kursi panjang warung yang akan dibongkar. Mungkin para aparat tersebut juga dilanda kelelahan yang sangat mengingat mereka harus berjaga sejak pukul 02.00 dini hari.

Permasalahan PKL di negara berkembang, salah siapa?

Proses penggusuran tersebut menuai berbagai pro dan kontra. Dari pihak PKL dan keluarganya serta aktivis LSM peduli PKL menganggap bahwa tindakan pemerintah tersebut semena-mena karena tidak memperdulikan hati nurani serta tidak adanya ganti rugi bagi para PKL yang tergusur. Padahal, banyak PKL yang ada di sana sudah menempati lahan di bahu jalan tersebut sejak puluhan tahun yang lalu, bahkan sudah ada pedagang yang menempati tempat jualannya sejak 4 generasi yang lalu. Selain itu, proses penggusuran tersebut terkesan mendadak karena masih baru beberapa hari yang lalu para pedagang dianjurkan untuk pindah.

Kemudian, pihak pemerintah dan masyarakat khususnya para penduduk di jalan tersebut serta para pengguna jalan menilai langkah pemerintah sudah tepat. Hal ini mengingat bahwa jalan tersebut memang memiliki fungsi sebagai sarana transportasi dan bukannya sarana pasar. Selain itu, para pemilik lahan pertokoan yang berada di balik lokasi PKL tersebut sudah merasa membayar pajak tetapi tidak bisa memanfaatkan tempat tinggalnya untuk kegiatan usaha karena tertutup oleh para PKL yang berdagang di bahu jalan.

Lantas, muncul pertanyaan “siapakah yang benar? siapakah yang salah?”. Permasalahan PKL memang menjadi perhatian yang serius, khususnya bagi pemerintah di negara berkembang. Katakanlah Indonesia, di beberapa kotanya selalu saja menghadapi masalah yang sama dari para PKL yaitu ketidak-sediaan para PKL dipindah, proses Relokasi yang rumit, PKL yang kumat berjualan lagi di tempat yang sama, bahkan sampai pada adanya tindakan anarkis yang menuntut kembali PKL berjualan di tempat yang sama.

Kerumitan masalah ini sebenarnya terletak pada masalah struktural ekonomi yang asimetris. Dimana masyarakat sebagai pelaku ekonomi merasa tidak mendapatkan porsi yang jelas dari kegiatan ekonominya. Kondisi ini diperparah dengan semakin minimnya lapangan kerja di berbagai sektor. Alhasil, wirausaha dengan modal kecil adalah salah satu solusi yang digunakan oleh masyarakat. Kondisi tersebut terlambat ditangani oleh pemerintah, sehingga selama beberapa tahun masyarakat yang mengambil jalan pintas (baca: tidak prosedural) dalam berusaha akhirnya membenarkan tindakan yang dilakukannya. Dan, pada akhirnya mereka merasa bahwa eksistensi mereka melakukan kegiatan ekonomi di pinggir jalan dianggap sebagai sebuah kelumrahan yang wajar.

Lantas salah siapakah kondisi seperti ini sekarang? Yang jelas adalah salah kita bersama. Pihak pemerintah, PKL, masyarakat yang ada, termasuk saya sendiri adalah pihak yang salah. Kenapa? karena jelas-jelas kita tahu itu salah, kenapa kita diamkan saja? Seharusnya pemerintah sebagai stakeholder dalam pengelolaan kota bisa tanggap dan mampu mengantisipasi masalah ini sejak dini, sehingga tidak menjadi kebiasaan. Para PKL seharusnya juga sadar, bahwa dengan mereka berjualan di pinggir jalan, pasti akan mengakibatkan kemacetan dan penggunaan fungsi jalan yang tidak seharusnya. Bagi masyarakat, seharusnya bisa menjadi agent of change dari setiap tindakan yang tidak seharusnya sehingga norma dan nilai yang berkembang di masyarakat dapat memberikan sangsi, minimal secara psikologis, bagi masyarakat lain yang melakukan pelanggaran atas fungsi publik.

Semoga saja pemerintah bisa menangani masalah ini tanpa harus menciptakan masalah baru lagi. Dan, sudah siapkah kita memiliki kesadaran sebagai agent of change di lingkungan sekitar kita?

6 Komentar

Filed under Uncategorized

6 responses to “Penggusuran PKL, Salah Siapa?

  1. keren bro..tapi keliru tanggal pengambilan gambarnya ape nggak hari kamis gusurannya
    sukses terus berkarya bro..

  2. sorry tentang fotonya…
    itu karena saya kemarin gak bawa kamera jadi saya ambil fotonya dari jawapos edisi jumat, 15 februari 2008 seperti yang saya cantumkan dalam tulisan itu.. but thank you deh for motivasinya ! keep rock deh ! may GOD BLESS SURABAYA…. !!!

  3. dyas

    kalau menurut saya percuma saja….pemkot mengadakan penggusuran pkl yg.dengan alasan penggusuran(utk mendapat penghargaan adipura).

  4. Dana

    hey!!!!! di mana hati nurani kamu pemerintah?
    saya setuju dengan penggusuran, tapi apa pemerintah menyediakan tempat untuk para korban penggusuran??????
    ternyata negri ini di hancurkan oleh penjahat berpakaian rapi, yaitu “PEMERINTAH”!!!!!!!!
    apakah tidak ada cara lain untuk memperindah kota? apa hanya PKL saja yang mengotori kota/negri ini?
    saya rasa PKL lebih baik dari PEMERINTAH yang hanya mementingkan keindahan kota dari pada nyawa menusia!

    seandainya mas Widy sendiri merasakan apa yang diderita oleh PKL apa yang akan mas widy lakukan selain DEMO?

  5. Terimakasih atas komentarnya…

    seperti yang telah saya utarakan dalam tulisan saya bahwa kesalahan penggusuran PKL adalah salah kita bersama… yah pemerintah sebagai otoritas legalnya, PKL sebagai obyek permasalahannya, juga kita sebagai anak bangsa yang belum bisa berbuat banyak untuk mereka.. iya ! kita semua bertanggung jawab atas semua yang terjadi itu… pemerintah, PKL, saya dan juga anda turut bertanggung jawab atas semua itu.
    Mengapa? coba saja kita lihat. Kalau kita mencoba mengembalikan fungsi asli dari trotoar, maka itu adalah jalan untuk pejalan kaki, bukan tempat yang enak untuk jualan. Namun, yang terjadi kita banyak melihat bahwa banyak orang menganggap trotoar adalah lahan kosong yang bisa digunakan untuk kepentingan ekonomis rakyat. ITU SALAH ! Nah..sudah tahu salah, mereka tetap juga berjualan di sana.. terus itu karena apa? itu karena pemerintah sangat lamban merespon geliat ekonomi rakyat dan tidak mampu memfasilitasi kegiatan ekonomi rakyatnya ! Sedangkan kita… Sudah tahu itu salah, tapi kita diam saja ! kita tetap membiarkan itu terjadi…bahkan lebih ekstrim lagi, ada orang yang turut membeli di tempat itu ! “klop sudah!” karena ada permintaan, di sana akan muncul penawaran !
    Jadi, mari kita berbenah kesadaran…tidak saling menyalahkan…tidak saling tuding, tapi bergerak, berdialektika menuju perubahan yang lebih baik untuk mencapai penyempurnaan (KAIZEN).

    Jika saya ditanya, apa yang akan saya lakukan seandainya saya jadi PKL selain demo ? saya akan mencari usaha lain atau saya akan memindahkan usaha saya. Bukankah rejeki ALLAH terhampar luas di atas bumi ini? tapi tentu saja itu secara normatif, karena sebetulnya saya tidak mengalami apa yang para PKL alami di dalam kehidupannya, tapi saya yakin bahwa ALLAH menciptakan kita dengan berbagai pilihan.

    sekian dulu, terima kasih…semoga bermanfaat…

  6. tri hariyamto

    sebaiknya pemerintah lebih peduli dengan rakyat kecil,
    penggusuran boleh boleh saja, asalkan para korban diberi tempat berjualan setelah di gusur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s